9 Cara Menentukan Scope Proyek Software Agar Efisien


Punya ide aplikasi untuk bisnis? Sebelum mulai mencari developer, ada satu hal yang sebaiknya kamu siapkan: scope proyek software yang jelas.

Banyak proyek pengembangan software tidak bermasalah karena teknologinya terlalu rumit, melainkan karena kebutuhan bisnis belum diterjemahkan menjadi pekerjaan yang konkret. Fitur bertambah di tengah jalan, alur kerja berubah setelah dikembangkan, dan hasil akhirnya tidak sesuai ekspektasi.

Situasi ini bisa membuat proyek memakan waktu lebih lama, menimbulkan revisi berulang, dan meningkatkan biaya pengembangan.

Kabar baiknya, kamu tidak harus memahami pemrograman untuk menghindari masalah tersebut. Kamu hanya perlu tahu bagaimana menjelaskan kebutuhan bisnis, menetapkan batas pekerjaan, dan menyepakati hasil yang ingin dicapai.

Berikut sembilan cara menentukan scope proyek software sebelum pengembangan dimulai.

Apa Itu Scope Proyek Software dan Mengapa Penting?

Scope proyek software adalah batas pekerjaan yang disepakati dalam sebuah proyek pengembangan perangkat lunak.

Scope menjelaskan apa yang akan dibuat, siapa yang akan menggunakannya, bagaimana sistem bekerja, serta apa saja yang termasuk dan tidak termasuk dalam pekerjaan developer.

Scope Bukan Sekadar Daftar Fitur

Misalnya, sebuah perusahaan ingin membuat aplikasi manajemen inventaris.

Menuliskan kebutuhan “sistem stok barang” belum cukup untuk menjadi scope proyek. Developer masih perlu mengetahui apakah aplikasi tersebut harus mendukung banyak gudang, beberapa tingkat persetujuan, barcode, pelacakan barang masuk dan keluar, serta integrasi dengan sistem penjualan.

Dua perusahaan bisa sama-sama membutuhkan aplikasi inventaris, tetapi kompleksitas pekerjaannya berbeda jauh.

Apa yang Terjadi Jika Scope Tidak Jelas?

Ketika kebutuhan belum disepakati, klien dan developer berpotensi memiliki asumsi yang berbeda tentang hasil akhir.

Kondisi ini dapat memicu scope creep, yaitu perluasan pekerjaan di luar kesepakatan awal tanpa penyesuaian waktu, anggaran, atau sumber daya yang memadai.

Karena itu, scope yang jelas bukan bertujuan membatasi perkembangan bisnis. Tujuannya adalah membuat setiap perubahan dapat dipertimbangkan secara transparan.

Dulurwangsa · Digital Solutions & Engineering

Punya tantangan bisnis? Yuk bangun solusi yang tepat bareng Dulurwangsa Tech House.

Obrolin dulu aja

Tahap 1: Menentukan Masalah dan Kebutuhan Bisnis

Sebelum membahas fitur atau desain antarmuka, pahami dahulu masalah operasional yang ingin diselesaikan.

1. Mulai dari Masalah Bisnis, Bukan Daftar Fitur

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah langsung meminta aplikasi dengan sederet fitur tanpa menjelaskan alasan fitur tersebut dibutuhkan.

Padahal, satu masalah bisnis bisa memiliki beberapa alternatif solusi.

Contoh: Proses Persetujuan Pembelian

Sebuah perusahaan mengalami keterlambatan proses pembelian karena seluruh permintaan masih dikirim melalui WhatsApp dan spreadsheet.

Permintaan awalnya mungkin berbunyi:

“Kami membutuhkan aplikasi procurement lengkap.”

Namun, setelah diperiksa, masalah utamanya adalah tidak adanya alur persetujuan yang terpusat.

Solusi tahap pertama mungkin cukup berupa sistem pengajuan pembelian, persetujuan berjenjang, dan pencatatan status permintaan.

Dengan mendefinisikan masalah terlebih dahulu, perusahaan dapat menghindari pengembangan fitur yang belum dibutuhkan.

2. Identifikasi Pengguna dan Alur Kerja Mereka

Sebuah aplikasi tidak hanya terdiri dari halaman dan tombol. Di baliknya, terdapat orang-orang dengan tugas serta hak akses berbeda.

Mulailah dengan mengidentifikasi siapa yang akan menggunakan sistem.

Contoh Pembagian Pengguna

Dalam aplikasi procurement, pembagian perannya bisa seperti ini:

  • Staf: membuat permintaan pembelian.

  • Manajer: memeriksa dan menyetujui permintaan.

  • Tim procurement: memproses pembelian yang disetujui.

  • Finance: memverifikasi pembayaran.

  • Administrator: mengelola pengguna dan pengaturan sistem.

Setelah peran ditentukan, gambarkan proses dari awal sampai akhir.

Siapa mengajukan? Siapa menyetujui? Apa yang terjadi jika permintaan ditolak? Apakah keputusan perlu disertai alasan?

Pertanyaan semacam ini membantu developer memahami logika bisnis, bukan hanya tampilan aplikasi.

3. Tentukan Tujuan dan Indikator Keberhasilan

Scope yang baik perlu menjawab satu pertanyaan mendasar: bagaimana kita tahu aplikasi ini berhasil?

Tujuan seperti “membuat operasional lebih efisien” masih terlalu umum.

Contoh Pembagian Pengguna

Sebagai ilustrasi, perusahaan bisa menetapkan target berikut:

  • Mengurangi rata-rata waktu persetujuan pembelian dari tiga hari menjadi satu hari.

  • Memastikan seluruh permintaan memiliki riwayat persetujuan.

  • Mengurangi kebutuhan rekap manual di akhir bulan.

  • Memungkinkan manajemen memantau permintaan yang masih tertunda.

Angka tersebut merupakan contoh target internal, bukan hasil yang otomatis dijamin oleh software.

Indikator keberhasilan akan membantu perusahaan mengevaluasi apakah aplikasi benar-benar menyelesaikan masalah bisnis setelah digunakan.

Tahap 2: Menyusun Dokumen Kebutuhan Aplikasi

Setelah masalah dan alur kerja dipahami, langkah berikutnya adalah menerjemahkannya ke dalam dokumen kebutuhan aplikasi.

Dokumen ini menjadi referensi bersama antara pemilik proyek, developer, dan pihak yang akan menguji hasil pekerjaan.

4. Pisahkan Kebutuhan Wajib dan Fitur Tambahan

Tidak semua fitur harus hadir pada peluncuran pertama.

Membuat seluruh fitur sekaligus dapat memperbesar scope, memperpanjang proses pengembangan, dan menyulitkan pengujian — dan biasanya akan membuat anggaran biaya pengembangan aplikasi membengkak.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah mengelompokkan kebutuhan menjadi empat kategori.

Klasifikasi Prioritas Fitur

PrioritasPengertianContoh
Must HaveWajib tersedia agar proses inti berjalanPengajuan dan persetujuan pembelian
Should HavePenting, tetapi masih dapat ditundaNotifikasi email otomatis
Could HaveNilai tambah jika sumber daya tersediaDashboard analitik lanjutan
Won’t Have for NowTidak termasuk fase pengembangan saat iniIntegrasi ERP penuh

Pendekatan ini membantu tim memisahkan kebutuhan operasional utama dari ide pengembangan jangka panjang.

Hasilnya, perusahaan dapat merencanakan versi awal aplikasi yang lebih terarah tanpa menutup kemungkinan ekspansi di kemudian hari.

5. Tetapkan Batas Pekerjaan secara Eksplisit

Setelah fitur diprioritaskan, tentukan pekerjaan apa saja yang termasuk dan tidak termasuk dalam proyek.

Bagian yang tidak termasuk atau out of scope sama pentingnya dengan daftar pekerjaan yang akan dilakukan.

Contoh In Scope dan Out of Scope

Misalnya, perusahaan menyepakati pengembangan aplikasi inventaris berbasis web.

In scope:

  • Login dan pengaturan hak akses pengguna.

  • Pencatatan barang masuk dan keluar.

  • Pengelolaan stok untuk dua gudang.

  • Laporan stok dalam format Excel.

  • Riwayat perubahan transaksi.

Out of scope:

  • Aplikasi Android dan iOS native.

  • Integrasi langsung dengan marketplace.

  • Modul akuntansi.

  • Migrasi otomatis seluruh data historis.

  • Dukungan gudang tambahan di luar kesepakatan.

Tanpa batas tersebut, satu pihak mungkin menganggap integrasi marketplace sudah termasuk, sementara pihak lain menganggapnya pekerjaan tambahan.

Menuliskan batas pekerjaan secara eksplisit dapat mengurangi kesalahpahaman sebelum proyek berjalan.

6. Dokumentasikan Kebutuhan Teknis dan Integrasi

Kebutuhan bisnis yang jelas tetap perlu didukung persyaratan teknis yang relevan.

Kamu tidak harus menentukan bahasa pemrograman atau arsitektur sistem sendiri. Namun, ada beberapa informasi yang sebaiknya disampaikan kepada developer sejak awal.

Kebutuhan Nonfungsional

Selain fitur utama, pertimbangkan kebutuhan seperti:

  • Jumlah pengguna dan perkiraan akses bersamaan.

  • Hak akses berdasarkan jabatan atau divisi.

  • Keamanan akun dan perlindungan data.

  • Pencadangan serta pemulihan data.

  • Kebutuhan performa dan waktu respons.

  • Kompatibilitas perangkat dan browser.

  • Kebutuhan audit log serta histori perubahan.

Syarat ini sebaiknya dibuat terukur sesuai risiko dan kebutuhan operasional, bukan sekadar menggunakan istilah seperti “cepat” atau “aman”.

Integrasi dengan Sistem yang Sudah Ada

Jika perusahaan sudah menggunakan aplikasi akuntansi, sistem penjualan, atau layanan pembayaran, sampaikan kebutuhan integrasinya sedini mungkin.

Developer perlu memeriksa ketersediaan API, akses data, dokumentasi sistem, biaya pihak ketiga, serta batasan teknis lainnya.

Integrasi yang awalnya dianggap sederhana bisa menjadi pekerjaan tersendiri apabila sistem eksternal tidak menyediakan akses yang dibutuhkan.

Tahap 3: Mengendalikan Pekerjaan dan Hasil Pengembangan

Scope yang sudah ditentukan belum otomatis menjamin proyek berjalan sesuai rencana.

Perusahaan dan developer juga perlu menyepakati bagaimana pekerjaan dievaluasi, kapan suatu fitur dinyatakan selesai, dan bagaimana perubahan ditangani.

7. Tentukan Deliverables dan Acceptance Criteria

Deliverables adalah hasil pekerjaan yang harus diserahkan developer.

Hasil tersebut dapat berupa aplikasi yang berfungsi, konfigurasi sistem, dokumentasi, atau pekerjaan lain yang disepakati.

Namun, deliverable saja tidak cukup. Setiap fitur penting sebaiknya dilengkapi acceptance criteria, yaitu kondisi yang harus dipenuhi agar pekerjaan dapat diterima.

Contoh Acceptance Criteria

Untuk fitur persetujuan pembelian, kriterianya bisa berupa:

  1. Staf dapat mengajukan permintaan pembelian.

  2. Manajer menerima permintaan yang membutuhkan persetujuannya.

  3. Manajer dapat menyetujui atau menolak permintaan.

  4. Setiap keputusan tersimpan bersama waktu dan identitas pengguna.

  5. Permintaan yang ditolak tidak dapat langsung diproses menjadi pembelian.

  6. Staf dapat melihat status terbaru permintaannya.

Dengan kriteria tersebut, pengujian menjadi lebih objektif.

Alih-alih hanya menyatakan “fiturnya belum sesuai”, kedua pihak dapat memeriksa kondisi mana yang belum terpenuhi.

8. Sepakati Timeline, Milestone, dan Tanggung Jawab

Jadwal pengembangan sebaiknya tidak hanya berisi satu tanggal peluncuran.

Bagi proyek menjadi beberapa milestone agar perkembangan dapat dievaluasi secara bertahap.

Contoh Milestone Pengembangan

TahapDeliverable
Analisis kebutuhanDokumen kebutuhan dan scope yang disetujui
DesainAlur pengguna dan rancangan antarmuka
PengembanganFitur sesuai prioritas proyek
PengujianHasil pengujian dan daftar perbaikan
PeluncuranAplikasi diterapkan pada lingkungan produksi
Serah terimaDokumentasi dan akses sesuai kesepakatan

Jangan lupa menentukan siapa yang bertanggung jawab memberikan persetujuan pada setiap tahap.

Keterlambatan tidak selalu berasal dari proses coding. Keputusan yang tertunda, data yang belum disediakan klien, atau akses integrasi yang belum tersedia juga dapat memengaruhi jadwal.

Karena itu, ketergantungan kepada pihak klien maupun penyedia layanan sebaiknya didokumentasikan.

Dari insight ke implementasi

Punya ide? Let's
make it work?

Mau upgrade website, bikin operasional bisnis lebih efisien, atau develop sistem digital yang sesuai kebutuhan lo? Let's figure out the right solution for your business.

Obrolin kebutuhan kamu Lihat layanan kami

Clear scope. Practical solutions. Technology built around your business.

9. Buat Mekanisme Change Request Sejak Awal

Kebutuhan bisnis bisa berubah setelah pengembangan dimulai. Hal ini wajar, terutama pada proyek yang berlangsung selama beberapa bulan.

Yang perlu dihindari adalah perubahan tanpa evaluasi dampak.

Bagaimana Change Request Bekerja?

Misalnya, di tengah proyek aplikasi inventaris, perusahaan ingin menambahkan fitur pemindaian barcode yang belum masuk scope awal.

Alih-alih langsung memasukkannya ke daftar pekerjaan developer, kedua pihak perlu meninjau:

  • Apa kebutuhan bisnis di balik fitur tambahan tersebut?

  • Apakah perubahan membutuhkan perangkat atau layanan tambahan?

  • Berapa pekerjaan dan biaya tambahannya?

  • Apakah jadwal peluncuran akan berubah?

  • Apakah ada fitur lain yang perlu ditunda?

  • Siapa yang berwenang menyetujui perubahan?

Setelah dampaknya disepakati, perubahan dapat dicatat dalam change request dan dimasukkan ke rencana pekerjaan yang diperbarui.

Mekanisme ini bukan untuk mempersulit klien, melainkan agar perubahan dapat diputuskan berdasarkan informasi yang jelas.

Contoh Dokumen Scope Proyek Software Sederhana

Tidak semua proyek memerlukan dokumen puluhan halaman. Untuk proyek dengan kompleksitas terbatas, dokumen ringkas yang jelas dan disetujui bersama bisa menjadi titik awal yang baik.

Template Informasi Minimum

KomponenIsi yang perlu ditentukan
Nama proyekNama aplikasi atau sistem yang dikembangkan
Latar belakangMasalah bisnis yang ingin diselesaikan
TujuanHasil yang diharapkan dan indikator keberhasilan
PenggunaPeran pengguna dan hak akses
Fitur wajibFitur yang harus tersedia pada fase pertama
Batas pekerjaanHal yang termasuk dan tidak termasuk
IntegrasiSistem atau layanan pihak ketiga
Kebutuhan teknisKeamanan, performa, data, dan persyaratan operasional
DeliverablesHasil pekerjaan yang akan diserahkan
Acceptance criteriaKondisi penerimaan fitur dan hasil proyek
TimelineMilestone serta dependensi utama
Change requestProses pengajuan dan persetujuan perubahan
Tanggung jawabPihak yang membuat, meninjau, dan menyetujui pekerjaan

Untuk proyek yang lebih kompleks atau melibatkan data sensitif, dokumentasi tambahan, peninjauan risiko, serta pengaturan keamanan dan kepatuhan mungkin diperlukan.

Siapa yang Sebaiknya Menyusun Dokumen Ini?

Pihak bisnis paling memahami proses operasional dan masalah yang ingin diselesaikan. Developer atau konsultan teknis memahami cara menerjemahkan kebutuhan tersebut menjadi sistem yang dapat dibangun.

Karena itu, penyusunan dokumen sebaiknya menjadi proses kolaboratif.

Pemilik proyek tidak harus memahami seluruh aspek teknis, tetapi perlu memahami dan menyetujui tujuan, fitur, batas pekerjaan, serta hasil akhirnya.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menentukan Scope

Bahkan dengan dokumen kebutuhan aplikasi, masih ada beberapa kebiasaan yang dapat menyebabkan pekerjaan ulang.

Menggunakan Kalimat yang Terlalu Umum

Permintaan seperti “buat dashboard yang lengkap” atau “sistem harus user-friendly” mudah menimbulkan interpretasi berbeda.

Ganti dengan kebutuhan konkret, misalnya informasi apa yang harus ditampilkan, siapa yang boleh mengaksesnya, dan tindakan apa yang dapat dilakukan pengguna.

Menganggap Semua Fitur Memiliki Prioritas Sama

Ketika semua fitur dianggap wajib, tim kesulitan menentukan pekerjaan mana yang harus diselesaikan lebih dahulu.

Tetapkan fitur inti berdasarkan nilai bisnis dan risiko jika fitur tersebut belum tersedia.

Mengabaikan Proses Pengujian dan Serah Terima

Sebuah aplikasi yang sudah selesai dikembangkan belum tentu siap digunakan dalam kegiatan operasional.

Rencanakan pengujian bersama pengguna, perbaikan temuan, kebutuhan pelatihan, dan proses serah terima sejak awal.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menentukan Scope

Artikel lain di kategori ini

Artikel di kategori lain

  • All Posts
  • Aplikasi Web & Software Kustom
  • Otomasi & Integrasi Bisnis
  • Pengembangan & Optimasi Sistem
  • Pengembangan Website
Scroll to Top